"Mereka Bilang Saya Monyet"
Masa lalu kelam adalah sebuah momok yang mendikte arah masa depan kita. Hal ini terlihat sangat nyata pada Adjeng (Titi Syuman), seorang penulis muda yang masih terkurung oleh bayang – bayang masa lalunya. Penjara inilah yang membentuk karakter Adjeng yang mendua. Di satu sisi ia bersikap sangat agresif ketika sedang bersama teman – teman dan kekasihnya, namun di sisi lain ia terlihat begitu pasif di depan ibunya (Henidar Amroe).
Itulah sinopsis film Mereka Bilang Saya Monyet!. Film yang diangkat dari kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu dengan judul yang sama ini mengungkap diskriminasi yang terjadi pada kaum perempuan di Indonesia. Sebagai penulis cerpen dan naskah serta sutradara, Djenar coba mengungkap lemahnya peranan hukum, masalah gender, dan pemahaman seks sebagai hal yang ditabukan dalam masyarakat Indonesia. Dalam penggarapan naskah, Djenar bekerja sama dengan Indra Herlambang selama dua tahun mengadopsi naskah cerpen menjadi sebuah skenario film yang baik. Untuk masalah judul, Mereka Bilang Saya Monyet! tetap dipertahankan karena sudah sangat identik dengan Djenar, sehingga secara komersial dapat lebih menjual. Selain Titi Syuman dan Henidar Amroe, film produksi Intimasi Production juga didukung oleh Rey Sahetapy, Arswemdo Atmowiloto, dan Joko Anwar. Sebagai sutradara, Djenar berjanji menyajikan nafas, tema, maupun visualisasi baru dalam kancah perfilman Indonesia.
Masa lalu kelam adalah sebuah momok yang mendikte arah masa depan kita. Hal ini terlihat sangat nyata pada Adjeng (Titi Syuman), seorang penulis muda yang masih terkurung oleh bayang – bayang masa lalunya. Penjara inilah yang membentuk karakter Adjeng yang mendua. Di satu sisi ia bersikap sangat agresif ketika sedang bersama teman – teman dan kekasihnya, namun di sisi lain ia terlihat begitu pasif di depan ibunya (Henidar Amroe).Itulah sinopsis film Mereka Bilang Saya Monyet!. Film yang diangkat dari kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu dengan judul yang sama ini mengungkap diskriminasi yang terjadi pada kaum perempuan di Indonesia. Sebagai penulis cerpen dan naskah serta sutradara, Djenar coba mengungkap lemahnya peranan hukum, masalah gender, dan pemahaman seks sebagai hal yang ditabukan dalam masyarakat Indonesia. Dalam penggarapan naskah, Djenar bekerja sama dengan Indra Herlambang selama dua tahun mengadopsi naskah cerpen menjadi sebuah skenario film yang baik. Untuk masalah judul, Mereka Bilang Saya Monyet! tetap dipertahankan karena sudah sangat identik dengan Djenar, sehingga secara komersial dapat lebih menjual. Selain Titi Syuman dan Henidar Amroe, film produksi Intimasi Production juga didukung oleh Rey Sahetapy, Arswemdo Atmowiloto, dan Joko Anwar. Sebagai sutradara, Djenar berjanji menyajikan nafas, tema, maupun visualisasi baru dalam kancah perfilman Indonesia.
